Para Perempuan Mulia, Cantik, dan Cerdik
Kecantikan hakiki terpancar dari hati, lisan dan perilaku yang syahdu dalam nilai-nilai Rabbaniyyah. Hal tersebut yang diteladankan oleh perempuan-perempuan mulia dalam Sejarah panjang Agama Islam. Nama mereka tidaklah lekang oleh waktu serta terus menginspirasi perempuan dimanapun mereka berada.
KHADIJAH BINTI KHUWAILIDUmmul mukminin Khadijah -Radhiallahu'anha- tidak hanya cantik secara zahirnya saja, namun kemuliaan akhlaq dan kecerdasannya (kecerdikan) juga tidak ada bandingannya. Meski lahir dalam keluarga Bangsawan Quraisy yang dikenal bergelimang harta, namun hal tersebut tidaklah menjadikannya sosok yang manja.
Khadijah -Radhiallahu'anha- justru menjadi sosok perempuan yang mandiri dan cerdas, hal tersebut nampak baik secara akal, emosional maupun spiritual. Hal yang sepatutnya diteladani oleh para perempuan dimanapun berada. Bukan mementingkan pesona fisik dengan menghabiskan kosmetik, namun terus mengedepankan akhlaq dengan berperilaku bijak dan memperkaya wawasan dengan keimanan.
AISYAH BINTI ABU BAKAR
Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wasallam- memiliki panggilan khusus untuk istrinya yang satu ini, yaitu Humairah, maknanya jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia adalah yang kemerah-merahan -red. Tapi sebenarnya bukan semata-mata kecantikan wajahnya yang putih dan sehingga muncul warna merah merona di pipinya. Tapi Aisyah -Radhiallahu'anha- juga dikenal kecerdasannya dan ketajaman hafalannya.
Sosok kecerdasan beliau nampak dimasa Rasulullah telah kembali ke hadapan Al-Khaliq. Aisyah -Radhiallahu'anha- dikenal merupakan periwayat hadits perempuan yang paling banyak meriwayatkan hadits, dan dikenal hadits-hadits yang diriwayatkannya shahih. Para Ulama menempatkan Aisyah sebagai orang kelima sebagai orang yang paling banyak meriwayatkan hadits. Haditsnya ditemukan sebanyak 2.200-an hadits yang tersebar di Shahih Bukhari ataupu Shahih Muslim.
FATIMAH BINTI MUHAMMAD
Fatimah -Radhiallahu'anha- tentu merupakan hasil pendidikan hebat orang tuanya yang merupakan sebaik-baik pendidik, yakni Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wasallam-, ikut ditempa dalam masa-masa sulit penyampaian dakwah bersama ayahandanya yang merupakan seorang Pembawa Risalah Terakhir.
Sebagai anak seorang yang terpandang, ia tak serta merta menjadikannya ukuran kemulian pribadi, sebagaimana para anak-anak pejabat yang ada pada hari ini.Kemuliaannya terbukti karena dirinya disebut Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wasallam- sebagai pemimpin para wanita penghuni surga. dalam dirinya terdapat keteladanan berupa sifat zuhud, wara' dan rasa cintanya kepada Allah -Subhanahu wa Ta'ala-.

.jpg)
Komentar
Posting Komentar